SIKAP PIMPINAN SEKOLAH YANG BAIK
Oleh : GUSLIAN ADE CHANDRA
SIKAP PIMPINAN SEKOLAH YANG BAIK
Oleh : GUSLIAN ADE CHANDRA
Dalam
hubungannya dengan misi pendidikan, kepemimpinan dapat diartikan sebagai usaha
Kepala Sekolah dalam memimpin, mempengaruhi dan memberikan bimbingan kepada
para personil pendidikan sebagai bawahan agar tujuan pendidikan dan pengajaran
dapat tercapai melalui serangkaian kegiatan yang telah direncanakan.
Fungsi kepemimpinan pendidikan menunjuk kepada berbagai aktivitas atau tindakan yang dilakukan oleh seorang Kepala Sekolah dalam upaya menggerakkan guru-guru, karyawan, siswa dan anggota masyarakat agar m atau berbuat sesuatu guna melaksanakan program-program pendidikan di sekolah.
Fungsi kepemimpinan pendidikan menunjuk kepada berbagai aktivitas atau tindakan yang dilakukan oleh seorang Kepala Sekolah dalam upaya menggerakkan guru-guru, karyawan, siswa dan anggota masyarakat agar m atau berbuat sesuatu guna melaksanakan program-program pendidikan di sekolah.
bahwa
untuk memungkinkan tercapainya tujuan kepemimpinan pendidikan di sekolah, pada
pokoknya kepemimpinan pendidikan memiliki tiga fungsi berikut:
a)
Membantu
kelompok merumuskan tujuan pendidikan yang akan dicapai yang akan menjadi
pedoman untuk menentukan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan ;
b)
Fungsi
dalam menggerakkan guru-guru, karyawan, siswa dan anggota masyarakat untuk
menyukseskan program pendidikan di sekolah; dan
c)
Menciptakan
sekolah sebagai suatu lingkungan kerja yang harmonis, sehat, dinamis, dan
nyaman, sehingga segenap anggota dapat bekerja dengan penuh produktivitas akan
memperoleh kepuasan kerja tinggi. Artinya pemimpin harus menciptakan iklim
organisasi yang mampu mendorong produktivitas pendidikan yang tinggi dan
kepuasan kerja yang maksimal.
Kemampuan seorang pemimpin mempengaruhi orang lain didukung oleh kelebihan yang dimilikinya, baik yang berkaitan dengan sifat kepribadian maupun yang berkaitan dengan keluasan pengetahuan dan pengalamannya, yang mendapat pengakuan dari orang-orang yang dipimpin. Menurut Lezotte (1991:3) sekolah yang efektif tercipta karena kepemimpinan yang diterapkan di sekolah diarahkan pada proses pemberdayaan para guru sehingga kinerja guru lebih berdasarkan pada prinsip-prinsip dan konsep bersama, bukan karena suatu instruksi dari pimpinan.
Peningkatan mutu sekolah memerlukan perubahan kultur organisasi suatu perubahan yang mendasar tentang bagaimana individu-individu dan kelompok memahami pekerjaan dan perannya dalam organisasi sekolah. Kultur sekolah terutama dihasilkan oleh kepemimpinan Kepala Sekolah .
Kepala Sekolah harus memahami bahwa sekolah sebagai suatu sistem organik, sehingga mampu berperan sebagai pemimpin leader dibandingkan sebagai manajer.
Sebagai Leader kosa kata harus:
a)
Lebih
banyak mengarahkan daripada mendorong atau memaksa;\
b)
Lebih
bersandar pada kerja sama dalam menjalankan tugas dibandingkan bersandar pada
kekuasaan atau Surat Keputusan (SK);
c)
Senantiasa
menanamkan kepercayaan pada diri guru dan staf administrasi, bukannya
menciptakan rasa takut;
d)
Senantiasa
menunjukkan bagaimana cara melakukan sesuatu daripada menunjukkan bahwa ia tahu
sesuatu;
e)
Senantiasa
mengembangkan suasana antusias, bukannya mengembangkan suasana yang menjemukan;
dan
f)
Senantiasa
memperbaiki kesalahan yang ada daripada menyalahkan kesalahan pada seseorang,
bekerja dengan penuh kesungguhan, bukannya ogah-ogahan karena serba kekurangan.
Agar kepemimpinan Kepala Sekolah efektif, beberapa sifat dan gaya kepemimpinan seorang pemimpin (Kepala Sekolah) dalam menggalang hubungan baik dengan orang-orang yang dipimpin yaitu: (S. Atmodiwiro dan Totosiwanto, 1991:73).
1. Memberi contoh;
2. Berkepentingan pada kualitas;
3. Bekerja dengan landasan hubungan kemansuiaan yang baik;
4. Memahami masyarakat sekitarnya;
5. Memiliki sikap mental yang baik;
6. Berkepentingan dengan staf dan sekolah;
7. Melakukan kompromi untuk mencapai kesepakatan;
8. Mempertahankan stabilitas;
9. Mampu mengatasi stres;
10. Menciptakan struktur agar sesuatu bisa terjadi;
11. Mentolerir adanya kesalahan;
12. Tidak menciptakan konflik pribadi;
13. Memimpin melalui pendekatan yang positif;
14. Tidak mendahului orang-orang yang dipimipinnya;
15. Mudah dihubungi oleh orang; dan
16. Memiliki keluarga yang serasi
Kepemimpinan Kepala Sekolah harus dapat menggerakkan dan memotivasi kepada:
a)
Guru,
untuk menyusun program, menyajikan program dengan baik, melaksanakan evaluasi,
melakukan analisis hasil belajar dan melaksanakan perbaikan dan pengayaan
secara tertib dan bertanggung jawab.
b)
Karyawan,
untuk mengerjakan tugas administrasi dengan baik, melaksanakan kebersihan
lingkungan secara rutin, melaksanakan tugas pemeliharaan gedung dan perawatan
barang-barang inventaris dengan baik dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab;
c)
Siswa,
untuk rajin belajar secara tertib, terarah dan teratur dengan penuh kesadaran
yang berorientasi masa depan; dan
d)
Orang
tua dan masyarakat, agar mampu untuk menumbuhkan dan mengembangkan sekolah
makin meningkat dan dirasakan sebagai suatu kewajiban, bukan sesuatu yang
membebani.
e)
Yang
lebih penting lagi, kepemimpinan Kepala Sekolah harus dapat memberikan
kesejahteraan lahir batin, mengembangkan kekeluargaan yang lebih baik,
meningkatkan rasa kebersamaan dalam mencapai tujuan dan menumbuhkan budaya
positif yang kuat di lingkungan sekolah.
f)
Komponen
sekolah, termasuk sekolah dasar dan madrasah ibidaiyah, terdiri dari
administrasi sekolah, kelembagaan, ketenagaan, kurikulum, siswa, sarana,
prasarana, dan situasi umum sekolah. Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor
yang terpenting dalam keberhasilan sekolah mencapai tujuannya.
g)
Kegiatan
Kepala Sekolah tidak hanya berkaitan dengan pimpinan pengajaran saja, melainkan
meliputi seluruh kegiatan sekolah, seperti pengaturan, pengelolaan sekolah, dan
supervisi terhadap staf guru dan staf administrasi.
Kepala Sekolah pada dasarnya melakukan
kegiatan yang beraneka macam dari kegiatan yang bersifat akademik,
administratif, kegiatan kemanusiaan dan kegiatan sosial.
Banyak kegiatan Kepala Sekolah yang sangat bermanfaat, yang bisa ditiru oleh Kepala Sekolah lain dalam melaksanakan tugasnya. Beberapa sekolah yang mempunyai prestasi yang baik di dalam pengelolaan sekolah (prestasi hasil belajar siswa, hubungan sekolah dengan masyarakat) dapat dijadikan bahan kajian oleh sekolah lain dalam rangka mengelola sekolahnya sendiri. Walaupun disadari pula bahwa tidak ada situasi yang sama yang dapat dijadikan landasan untuk pengelolaan sekolah seperti guru, siswa, administrasi dan alat peralatan. Hal ini sangat mempengaruhi bagi terciptanya sekolah yang efektif.
Banyak kegiatan Kepala Sekolah yang sangat bermanfaat, yang bisa ditiru oleh Kepala Sekolah lain dalam melaksanakan tugasnya. Beberapa sekolah yang mempunyai prestasi yang baik di dalam pengelolaan sekolah (prestasi hasil belajar siswa, hubungan sekolah dengan masyarakat) dapat dijadikan bahan kajian oleh sekolah lain dalam rangka mengelola sekolahnya sendiri. Walaupun disadari pula bahwa tidak ada situasi yang sama yang dapat dijadikan landasan untuk pengelolaan sekolah seperti guru, siswa, administrasi dan alat peralatan. Hal ini sangat mempengaruhi bagi terciptanya sekolah yang efektif.
Kepala Sekolah sebagai pemimpin
pendidikan mempunyai tugas memadukan unsur-unsur sekolah dengan situasi
lingkungan budayanya, yang merupakan kondisi bagi terciptanya sekolah yang
efektif. Sekolah yang efektif adalah sekolah yang memiliki mutu yang baik.
Artinya, bahwa mutu siswa yang dihasilkan oleh sekolah itu mempunyai kemampuan
dan keterampilan sesuai dengan tuntutan dan keinginan masyarakat dan menjawab
tantangan moral, mental dan perkembangan ilmu serta teknologi. Siswa yang
bermutu adalah siswa yang memiliki kemampuan dan potensi mengembangkan dirinyak
menjadi warga yang berguna bagi nusa, bangsa dan negara.
Dengan demikian maka Kepala Sekolah
adalah seorang pemimpin pendidikan yang merencanakan, mengorganisasikan,
mengkoordinasikan, mengawasi, dan menyelesaikan seluruh kegiatan pendidikan di
sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran. Mulyasa (2004:98)
menyimpulkan bahwa Kepala Sekolah memiliki tujuh peran yaitu Kepala Sekolah
selaku Edukator, Manajer, Advisor, Supervisor, Leader, Inovator, dan Motivator
(EMAS LIM).
Sebagai seorang pemimpin, Kepala Sekolah
bertindak dan berperan selaku supervisor yang berkewajiban agar tiap guru atau
bawahannya melakukan situasi sesuai dengan tanggung jawab yang diembannya.
Tanggung jawab supervisor adalah mengusahakan agar guru sebagai bawahannya mau
melaksanakan tugasnya sesuai dengan persyaratan-persyaratan tugas/pekerjaan
yang telah ditetapkan.
Sebagai seorang supervisor, Kepala
Sekolah diharapkan bertindak sebagai seorang konsultan yang dinamis, menyiapkan
supervisi pendidikan dari latihan, instruksi, penyuluhan dan evaluasi. Dengan
demikian tugas utama seorang supervisor adalah menolong seorang bawahan
mencapai tujuan organisasi dengan cara menunjukkan kepada bawahan, bagaimana
cara menyelesaikan tugas dengan mempengaruhi kemampuan bawahan.
Dalam melaksanakan perannya sebagai
seorang supervisor, Kepala Sekolah dituntut untuk lebih dekat dengan para guru,
khususnya pada saat mereka berada di lingkungan sekolah. Pengamatan terhadap
guru dapat dilakukan melalui pengamatan langsung pada proses mengajar, maupun
supervisi terhadap perilaku pengajaran. Kepala Sekolah harus mampu menggerakkan
guru agar melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru. Evaluasi terhadap guru
dapat dilakukan oleh guru, siswa dan Kepala Sekolah. Evaluasi ini dalam rangka
mengetahui sampai sejauhmana guru-guru melaksanakan tugasnya, sesuai dengan
program atau rencana satuan bahan pelajaran (apakah guru tersebut telah
berhasil menyelesaikan bahan pelajaran dalam waktu yang telah ditentukan).
Adapun tugas guru, selain mengajar,
mendidik dan melatih siswa, masih di bebani tugas tambahan, yaitu membantu
Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugas
a)
Bidang
administrasi;
b)
Manajemen
kelas dan sekolah;
tugas ini meliputi: program pengajaran, pembinaan kesiswaan, bimbingan dan penyuluhan, pengelolaan kelas, pengelolaan perpustakaan, pengelolaan laboratorium/ruang praktek;
tugas ini meliputi: program pengajaran, pembinaan kesiswaan, bimbingan dan penyuluhan, pengelolaan kelas, pengelolaan perpustakaan, pengelolaan laboratorium/ruang praktek;
c)
Program
pengajaran
Program ini terdiri dari berbagai penyusunan; penyusunan jadwal kegiatan sekolah, penyusunan pembagian tugas guru, penyusunan jadwal pelajaran, penyusunan jadwal evaluasi belajar, dan penyusunan laporan pelaksanaan pengajaran secara berkala; dan
Program ini terdiri dari berbagai penyusunan; penyusunan jadwal kegiatan sekolah, penyusunan pembagian tugas guru, penyusunan jadwal pelajaran, penyusunan jadwal evaluasi belajar, dan penyusunan laporan pelaksanaan pengajaran secara berkala; dan
d)
Bidang
kesiswaan
meliputi penyusunan program pembinaan kesiswaan/OSIS, pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dan pengendalian kegiatan siswa/OSIS dalam rangka menegakan disiplin dan tata tertib sekolah, pengarahan dalam pemilihan pengurus OSIS dan pembinaan pengurus OSIS.
meliputi penyusunan program pembinaan kesiswaan/OSIS, pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dan pengendalian kegiatan siswa/OSIS dalam rangka menegakan disiplin dan tata tertib sekolah, pengarahan dalam pemilihan pengurus OSIS dan pembinaan pengurus OSIS.
Dalam teori kepemimpinan paternalistik, disebutkan bahwa seorang pemimpin adalah figur seorang bapak. Oleh karena itu, maka sebagai figur seorang bila pak, Kepala Sekolah haruslah memiliki segala kemampuan.
Bahwa persepsi
bagi seorang pemimpin yang paternalistik, dalam melakukan peran kepemimpinannya
dalam kehidupan organisasional dapat diwarnai oleh adanya harapan-harapan dari
para pengikut kepadanya. Harapan itu biasanya berwujud keinginan agar pemimpin
mereka mampu berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi, dan yang layak
dijadikan sebagai tempat bertanya serta untuk memperoleh petunjuk atas segala
permasalahan yang dihadapinya. Sikap kebapakan memang dapat menyebabkan adanya
hubungan atasan dan bawahan yang bersifat informal daripada hubungan formal.
Kepala
Sekolah juga merupakan sosok “yang dituakan” sehingga yang diharapkan darinya
adalah contoh dan teladan yang baik. Kedudukan sebagai kepala keluarga membawa
dampak bahwa Kepala Sekolah berkewajiban melaksanakan bimbingan dan teguran
terhadap anak yang melakukan kesalahan dengan sikap kebapakan, dan tidak
dilandasi dengan sikap kecurigaan. Sekolah dianggap sebagai keluarga besar yang
memerlukan kerjasama antara warganya, dan kerjasama itulah yang merupakan
landasan keberhasilan sekolah.
Oleh
karena itu, dalam persepsi guru, seorang Kepala Sekolah harus memiliki
karakteristik sebagai kepala keluarga di sekolah. Sifat-sifat atau
karakteristik seorang Kepala Sekolah sebagai kepala keluarga di sekolah, yaitu:
a)
Memiliki
integritas, yaitu bersifat tegas dan jujur, baik tercermin dari sifat-sifat
pribadinya maupun dalam pelaksanaan prinsip-prinsip moralnya;
b)
Adil,
yaitu harus bersikap adil terhadap kebenaran dan tidak ada perbedaan perlakuan
kepada siapapun;
c)
Kemampuan,
yaitu mampu melaksanakan tugasnya dan mampu melaksanakan hubungan kemanusiaan
dengan baik;
d)
Memiliki
intuisi, yaitu mampu melaksanakan tugasnya dari nmpu melaksanakan hubungan
kemanusiaan dengan baik; dan
e)
Reliabilitas,
yaitu memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain dalam
melaksanakan komitmennya.
Dalam persepsi
guru, karakteristik-karakeristik itulah yang harus tercermin dari seorang
Kepala Sekolah sebagai seorang pemimpin pendidikan yaitu Kepala Sekolah harus
memiliki kemampuan sebagai edukator, manajer, advisor, supervisor, leader,
inovator dan motivator (EMASLIM).
Dari pendapat para ahli tersebut, dapat
disimpulkan bahwa kepemimpinan seorang Kepala Sekolah akan berpengaruh terhadap
kedisiplinan guru dalam rangka melaksanakan tugas-tugasnya selaku pendidik,
pengajar, dan pelatih.
Sebagaimana telah disampaikan di muka, bahwa
Kepala Sekolah sebagai pemimpin pendidikan mempunyai tugas memadukan
unsur-unsur sekolah dengan memperhatikan situasi lingkungan budayanya, yang
merupakan kondisi bagi terciptanya sekolah yang efektif.
Sekolah yang efektif adalah sekolah yang memiliki mutu yang baik. Artinya, bahwa mutu siswa yang dihasilkan oleh sekolah itu mempunyai kemampuan dan keterampilan sesuai dengan tuntutan dan keinginan masyarakat dan menjawab tantangan moral, mental dan perkembangan ilmu serta teknologi. Siswa yang bermutu adalah siswa yang memiliki kemampuan dan potensi mengembangkan dirinya menjadi warga yang berguna bagi nusa, bangsa dan negara.
Sekolah yang efektif adalah sekolah yang memiliki mutu yang baik. Artinya, bahwa mutu siswa yang dihasilkan oleh sekolah itu mempunyai kemampuan dan keterampilan sesuai dengan tuntutan dan keinginan masyarakat dan menjawab tantangan moral, mental dan perkembangan ilmu serta teknologi. Siswa yang bermutu adalah siswa yang memiliki kemampuan dan potensi mengembangkan dirinya menjadi warga yang berguna bagi nusa, bangsa dan negara.
Dengan demikian, maka Kepala Sekolah
adalah seorang pemimpin pendidikan yang mempunyai tugas untuk melaksanakan
fungsi-fungsi manajemen, yaitu merencanakan, mengorganisasikan,
mengkoordinasikan, mengawasi dan menyelesaikan seluruh kegiatan pendidikan di
sekolah, dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran secara
bersama-sama.